oleh

Darurat Hoax di Tengah Pandemi Covid-19 Oleh Influencer

-Opini, dibaca 802 x

Menyuarakan suara dan pendapat di era dunia media sosial ini, menjadi sorotan, terutama jika anda melontarkan kata-kata dan menyinggung orang lain atau organisasi lain, apalagi jika hal ini diungkapan oleh para influencer, yang bisa mempengaruhi persepsi banyak orang. Tak sedikit influencer menyebarkan informasi tentang Covid-19. 

Namun para influencer ini terkadang tidak lagi mengkritisi informasi yang mereka sampaikan ke sosial media, sehingga informasi palsu (hoax) seputar pandemi Covid-19 bermunculan ditengah masyarakat pun tidak dapat terelakkan, tidak hanya di Indonesia namun di penjuru dunia.
 
Kemajuan dan ragam media komunikasi yang dimiliki oleh masyarakat menjadi faktor cepatnya penyebaran berita hoax sehingga menyebabkan keresahan masyarakat di tengah pandemi Covid-19, bahkan informasi palsu dapat berujung pada hilangnya nyawa seseorang. Hal yang mejadi unik untuk didiskusikan adalah faktor sosial dan kesehatan apa saja yang mempengaruhi darurat hoax di tengah pandemi Covid-19 oleh influencer.
 
Influencer di Indonesia
 
Influencer itu, kata serapan dari Bahasa Inggris, yang artinya ‘seseorang yang memberikan pengaruh’ terhadap orang lain. Biasanya influencer ini adalah sosok yang terkenal di bidangnya, misal musik, sinetron, artis, dan sering menyuarakan pendapat mereka secara terbuka dimedia sosial mereka, dengan followers yang cukup banyak.
 
Contoh influencer yang lagi marak-maraknya adalah artis, penyayi, selebram, blogger, youtuber, dan lain-lain. Jumlah pengikut para influencer bisa mencapai lebih dari ribuan hingga jutaan pengikut, sehingga mereka berhasil menggiring opini publik. Influencer memiliki kekuatan untuk mempengaruhi, menggiring opini, dan sikap followersnya secara online melalui sosial media. Bagaimana memahami dampak influencer di Indonesia dalam menyebarkan informasi terkait Covid-19?
 
Contoh influencer dan dua komentar mereka terkait Covid-19
Sumber: Kompas.com

“Gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan rumah sakit dengan seenaknya mewajibkan semua orang yang akan melahirkan tes Covid-19," tulis Jerinx.
 
“Saya sudah coba sejak berbulan-bulan lalu, dan tidak ada RS yang izinkan saya ketemu pasien tanpa APD. Cek IG saya, ada buktinya. Saya sudah siap mati demi ini. Apa mereka siap rahasia dapurnya kebongkar?” tulis Jerinx.
 
Dua statement ini kami kutip dari salah satu berita online, Kompas, tulisan di media sosial yang dimiliki oleh Jerinx. Jerink, salah satu anggota Supermen is Dead (SID), public figure dan juga influencer yang sudah ditetapkan sebagai terdakwa dan dalam proses persidangan untuk pembuktikan apakah sikap musisi ini, melanggar Undang-Undang Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE). 
 
Aksi Jerinx merupakan salah satu kekecewaan dirinya terhadap layanan kesehatan, dimana mewajibkan tes Covid-19 termasuk untuk ibu yang mau melahirkan, disaat tidak semua layanan kesehatan memberikan tes gratis untuk ini. Sehingga, hak asasi sang ibu untuk mendapatkan akses layanan secepat mungkin, bisa menjadi terlambat karena kewajiban tes Covid-19, walau disatu sisi tes ini bertujuan untuk mengetahui lebih dini dan screening Covid-19 untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 di layanan kesehatan. Namun, dengan menuduh IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan Rumah sakit sebagai kacung WHO, menimbulkan friksi sendiri di kalangan organisasi terbesar di bidang kesehatan di Indonesia.
 
Contohnya berita hoax yang beredar yaitu pada kasus yang baru terjadi bulan Agustus 2020 di mana salah satu youtuber sekaligus musisi tanah air yang menggemparkan berita dikarenakan salah satu video youtubenya yang mengundang bintang tamu yang "katanya" professor dan sudah menemukan obat herbal untuk menyembuhkan Covid -19 serta pernyataan mereka terkait virus ini yang mengatakan bahwa virus ini tidak semengerikan yang telah diberitakan, corona hanya konspirasi, dan lain-lain. (BBC News Indonesia, 2020). 
 
Sebagai catatan untuk menjadi analisa kita bersama, Anji adalah salah satu dari sederet artis, influencer, yang diundang Presiden Joko Widodo ke Istana untuk membantu mensosialisasikan pencegahan Covid-19 melalui media sosial mereka, yang memiliki jutaan followers. 
 
Influencer dan Pandemi COVID-19
 
Dengan tingkat literasi rendah mengenai Covid -19 yang minim, masyarakat Indonesia sangat mudah untuk dipengaruhi, termasuk dari informasi para influencer. 
 
Ditengah pandemi ini influencer menjadi profesi yang dinilai para generasi muda dan para selebritas, hal ini karena keuntungan yang didapat cukup menggiurkan dan dengan bantuan media sosial membuat mereka lebih mudah untuk menyebarkan informasi, apalagi di tengah pandemik ini sebagian besar orang menggunakan media sosial untuk beraktivitas.
 
Namun, tak sedikit influencer menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya atau berita hoax yang menyebabkan keresahan di masyarakat Indonesia. Berita hoax menyebar lebih cepat dari pada berita yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
 
Hal ini dapat membuat pasien meragukan diagnosa dari dokter sehingga mereka menunda atau bahkan enggan memeriksa kesehatannya ke tenaga kesehatan ahli dan lebih memilih perawatan alternatif yang belum tentu akurat. 
 
Salah satu penyebab cepatnya beredar berita hoax adalah rendahnya literasi media yang dimiliki masyarakat Indonesia sehingga mudah menyebarkan informasi yang belum diketahui tentang kebenarannya. 
 
Masih terbatasnya masyarakat Indonesia yang berusaha mengkritisi kebenaran sebuah informasi sebelum menyebarluaskan ke media. 
 
Berkaca dari beberapa kasus tersebut, pelaku penyebar hoax kebanyakan berasal dari kalangan yang secara pendidikan terbilang tinggi. Informasi buram yang mereka ajukan serta tidak kridibel terkait virus Corona. 
 
Dengan hanya berbekal informasi yang belum tentu valid yang mereka (influencer) sampaikan ke media sosial dengan jumlah pengikut yang mencapai lebih dari ribuan pengikut, mereka berhasil menggiring opini publik. 
 
Tak heran jikalau banyak orang yag mempercayai pernyataan yang mereka ucapkan. Bahkan beberapa dari mereka menyingkirkan rasa kemanusiaan hanya demi kepentingan dan kesenangan mereka sendiri.
 
Irisan faktor yang mempengaruhi daruat hoax di tengan influencer
 
Berikut adalah irisan-irisan faktor yang dapat mempengaruhi penyebaran informasi dengan pengaruh influencer.
 
 
Faktor Individu
 
Sumber : http://infopublik.id/kategori/sorot-politik-hukum/443380/literasi-covid-19-sapu-bersih-hoaks

Kurangnya literasi terkait Covid-19 bisa jadi menjadi salah satu faktor dimana masyarakat lebih mudah percaya informasi yang menyebar di sosial media dan berita-berita online. 
 
Ada kecenderungan untuk masyarakat dengan literasi Covid-19 rendah lebih percaya pada informasi dari para influencer daripada tenaga kesehatan dan lembaga resmi, seperti Kementerian Kesehatan dan Rumah sakit. Tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu, menjadi pemicu seseorang dengan mudahnya meneruskan informasi hoax ke pihak lain, sehingga semakin cepatnya berita hoax merambat. 
 
Faktor Interpersonal/Keluarga dan Komunitas
 
Guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung, Deddy Mulyana, menyebut faktor utama yang menyebabkan informasi palsu (hoax) mudah tersebarnya di Indonesia yakni karakter asli masyarakat Indonesia yang dinilai tidak terbiasa berbeda pendapat atau berdemokrasi secara sehat. Kondisi itu merupakan salah satu faktor mudahnya masyarakat menelan hoax yang disebarkan secara sengaja. 
 
“Sejak dulu orang Indonesia suka berkumpul dan bercerita. Sayangnya, apa yang dibicarakan belum tentu benar. Sebab budaya kolektivisme ini tidak diiringi dengan kemampuan mengolah data”. 
 
WhatsApp menjadi salah satu media sosial yang paling banyak menyebarkan berita hoax. Karena yang mereka pikirkan hanyalah “ini harus dikirim, keluargaku harus tahu atau teman-temanku harus tahu, atau anggota RTku harus tau” tanpa mengkritisi lagi informasi yang didapat. Sikap gegabah karena ingin segera melindungi orang yang disayangi dari ancaman virus Corona menyebabkan penyebaran informasi hoax semakin cepat. 
 
Menurut penelitian dari Arif Widodo (2020) bentuk informasi hoax yang sering didapatkan oleh responden berupa tulisan atau kata-kata yaitu sebanyak 60,70%. Informasi hoax yang menggunakan media gambar 21,40%, menggunakan video 12,50% dan yang menggunakan pesan suara sebanyak 5,40%. 
 
Jenis media social yang sering digunakan untuk mengakses informasi Covid-19 adalah WhatsApp yaitu sebanyak 42,9%. Pada peringkat kedua adalah Instagram yaitu sebanyak 23,2%, selanjutnya Facebook sebanyak 19,6% dan media lainnya sebanyak 14,3%. 
 
Faktor Sosial-Ekonomi
 
Faktor lain yang beririsan adalan faktor ekonomi. Kekurangan ekonomi membuat beberapa orang untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Contohnya membuat situs web dengan informasi palsu, mereka tidak peduli dampak negatifnya, selama itu menarik untuk mengunjungi situs webnya dan dapat menghasilkan uang lebih banyak. 
 
Sejak kasus Covid-19 meningkat di Indonesia, berbagai permasalahan sosial dan ekonomi muncul ditengah masyarakat. 
 
Tak dapat dipungkiri jika Covid-19 telah hampir melumpuhkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia, khususnya bagi orang-orang yang terbiasa hidup dengan berkecukupan, contohnya bagi influencer yang mengalami penurunan pendapatan. Karena keterbatasan ekonomi para influencer memanfaatkan keadaan dengan membuat informasi yang tidak terbukti kebenarannya, bertujuan untuk mendapatkan keuntungan, mereka memanfaatkan sosial media.
 
Dalam konteks ekonomi, hoax punya efek yang besar terhadap perekonomian. Hoax mampu mempengaruhi ekspektasi dan perilaku masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan mengunjungi layanan kesehatan. Pemilik situs yang menyebarkan berita hoax ini akan meraup keuntungan yang besar setiap kali berita itu diklik. 
 
Besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan terlarang ini sangat berbahaya bagi iklim investasi nasional yang akan menyebabkan kestabilitasan ekonomi di Indonesia tidak baik. 
 
Faktor Epidemiologi Sosial
 
Saat ini ada banyak influencer yang tidak mengikuti protokol kesehatan di tempat umum dengan dalihkan disekitar mereka tidak ada yang terinfeksi, mereka juga mengupload kegiatan tersebut ke sosial mereka. Yang mana perbuatan mereka dapat mempengaruhi dan ditiru oleh followes mereka.
 
Seiring dengan beredarnya berita hoax yang mengatakan bahwa Virus Corona bukanlah sesuatu yang perlu diwaspadai dan tidak seburuk yang telah disampaikan oleh tenaga kesehatan dan di beritakan media, bahkan para influencer menggiring opini publik untuk tidak percaya terhadap WHO dengan berbagai perspektif mereka, sehingga saat ini semakin lama semakin banyak masyarakat Indonesia yang masa bodoh terhadap virus ini, semakin pudar rasa takut dan waspada. 
 
Seperti yang terlihat sekarang banyak muda mudi yang terlihat menongkrong santai tanpa mengikuti protokol kesehatan yang telah dianjurkan, mereka terlihat abai terhadap kesehatan mereka sendiri termasuk keluarga di rumah. Hanya karena penderita Corona tidak ada di sekitar mereka atau tidak pernah mereka temui secara langsung, mereka beranggapan bahwa lingkungan mereka bersih dari virus ini.
 
Dengan adanya kejadian ini, tak heran jikalau Indonesia merupakan salah satu negara dengan laporan jumlah kasus COVID -19 terbanyak, bahkan Indonesia sampai diblokir oleh 59 negara.
 
Apa yang perlu dilakukan:
 
Perkembangan teknologi komunikasi mendorong akses dan penyebaran informasi menjadi tanpa batas dan tidak terkontrol. Kurangnya pemahaman akan konten media social yang terindikasi melanggar UU ITE serta kesadaran atas sanksi hukum penyalahgunaan informasi menjadi dasar terus bertambahnya penyebar hoax di media social. 
 
Dimana hal ini tercantum dalam pasal 28 ayat 1 UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE, serta sanksi pidana bagi pelaku penyebar hoax terdapat dalam pasal 45 ayat 1 yaitu hukuman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah (Choirroh, 2017).
 
Untuk itu pentingnya pendidikan literasi agar dapat membangun kesadaran masyarakat dengan memusatkan kemampuan membaca dan menyebarluaskan informasi secara lebih arif dan kritis.
 
Dengan meningkatkan kesadaran akan beratnya sanksi hukum bagi penyalahgunaan informasi di media social, serta mengedukasi masyarakat untuk segera melaporkan tindakan yang terindikasi sebagai penyebar hoax, harus melapor ke mana dan bagaimana prosedurnya. 
 
Lalu diperlukan gerakan mengajak kaum muda untuk memahami bagaimana cara mengidentifikasi berita hoax melalui media sosial seperti instagram, serta kemungkinan dampak yang akan terjadi jika penyebaran hoax dibiarkan. Karena saat ini masyarakat akan menjadi pengendali utama arus informasi dan membuat keputusan terbaik untuk dirinya dan keluarganya.
 
RANIA SHAFIRA TALIDA ; NURUL SALSABILA; SILVY ALVIONITA; NURMALIA ERMI; NAJMAH.
 
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA
contact person: ns.salsabila20@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments