oleh

Miris! Indonesia Menduduki Peringkat 1 Angka Kematian COVID-19 di Asia Tenggara

-Opini, dibaca 1183 x

Dua kasus pertama COVID-19 pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 (WHO, 2020; Kemenkes RI, 2020). Pada 31 Maret 2020 dilaporkan kasus yang terkonfirmasi berjumlah 1.528 kasus dan 136 jumlah kematian (Kemenkes RI, 2020). 

Data terakhir, Rabu  (14 Oktober 2020) yang diperoleh dari Worldmeters menunjukkan bahwa jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sebanyak 340.622 dengan jumlah kematian sebanyak 12.022 jiwa. Dalam dua minggu terakhir, kasus Covid-19 baru sudah mencapai 60 ribu kasus; angka yang sama yang dicapai Indonesia dalam kurun waktu 4 bulan di awal pandemi.
 
Indonesia memang bukan negara yang paling banyak kasus COVID-19 di Asia Tenggara bila dibandingkan dengan Filipina yang memiliki jumlah kasus 344.713 hingga bulan Oktober 2020. Namun Indonesia merupakan negara yang paling banyak menyumbang angka kematian akibat COVID-19 di Asia Tenggara. Persentase tingkat kematian COVID-19 di Indonesia mencapai 3,7% pada saat ini (worldometers, 2020).
 
Sumber Gambar: Detik Health (September 2020)
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5156192/ri-jadi-negara-dengan-jumlah-kematian-akibat-covid-19-tertinggi-di-asean

Munculnya pandemi COVID-19 menimbulkan berbagai dampak di segala bidang kehidupan. Beragam kebijakan pun ditetapkan untuk penanganan COVID-19 di Indonesia diantaranya kebijakan terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Meski begitu tingkat kematian di Indonesia tetap tinggi diantara negara-negara Asia Tenggara lainnya.
 
Determinan Sosial Mengapa Indonesia menjadi Negara Dengan Kasus Kematian Akibat COVID-19 Tertinggi di Asia Tenggara
 
 
Faktor Individu: Memiliki Riwayat Penyakit Penyerta (Komorbid)
 
Sumber Gambar: Kompas (Juni 2020)
https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/13/kematian-akibat-covid-19-di-indonesia-tertinggi-di-asia-tenggara-sebagian?page=al

Faktor individu menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia. Virus Covid-19 memicu penyakit bawaan (komorbid) yang diidap oleh sebagian besar pasien yang meninggal dunia.
 
Hal ini dipertegas oleh Epidemiolog yang juga Juru Bicara Satgas Covid-19 Rumah Sakit UNS Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, sebagian besar kasus kematian Covid-19 di Indonesia karena adanya penyakit penyerta atau komorbid.
 
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan pada Rabu (3/6/2020) yang kemudian disampaikan oleh Tonang Dwi Ardyanto bahwa: “Angka kematian komorbid (penyakit penyerta) tunggal sebanyak 26,3%. Sementara pasien meninggal dengan komorbid ganda mencapai lebih dari 50%. Selain itu adanya pasien yang meninggal murni karena Covid-19 sebanyak 7,31%”.
 
Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) telah mencantumkan penyakit-penyakit penyerta adalah penyebab tingginya kematian pasien dengan COVID-19, seperti penyakit asma; diabetes, dan kardiovaskuler.
 
Faktor-faktor lainnya pada tingkat individu yang menyumbang peningkatan risiko kematian pasien dengan Covid-19 antara lain: 1) usia tua; 2) imunitas; 3) kebiasan yang tidak sehat (merokok, terjaga hingga larut malam); 4) literasi terkait Covid-19; 5) egoisme-‘saya tidak mungkin terinfeksi Covid-19’; 6) kurang aktifitas fisik (olahraga) serta faktor lainnya diluar elemen individu.
 
Faktor Interpersonal

Adanya penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah Indonesia mengharuskan masyarakat tetap dirumah serta bekerja dan belajar di rumah. Namun hal tersebut tidak dapat menjamin seseorang tidak akan tertular COVID-19 bila orang tersebut tidak mengetahui cara melindungi diri.
 
Berdasarkan penelitian oleh epidemiolog Korea, penularan COVID-19 melalui kontak dalam rumah juga perlu diawasi karena hal tersebut tidak menutup kemungkinan terjadi penularan dari anggota rumah mereka sendiri daripada di luar rumah.
 
Pada kelompok keluarga dari ekonomi menengah kebawah, tidak ada sarana dan prasarana yang memadai, misal mereka tidak memiliki fasilitas khusus untuk isolasi mandiri di rumah dan tetap berinteraksi dengan anggota keluarga dan sosial. 
 
Seperti, seorang orang tanpa gejala (OTG), tanpa pengawasan dan menutup status Covid-19 di masyarakat untuk terhindar dari stigma, masih bisa beraktifitas seperti biasa, ke musola, ke warung di depan rumah, ngobrol dengan tetangga. Sedangkan, pada kelompok dari keluarga ekonomi menengah ke atas, faktor-faktor meningkatnya risiko kematian cukup berbeda, misal faktor stress. Stress dikarenakan pada satu waktu, memikirkan beban pekerjaan dan keluarga ketika harus melakukan isolasi mandiri.
 
Faktor Pelayanan Kesehatan
 
Irisan faktor lainnya adalah faktor pelayanan kesehatan dimana ketidaksiapan fasilitas pelayanan kesehatan dan laboratorium untuk tes Covid-19 pada awal pandemi, adanya ketimpangan akses tes Covid-19 di provinsi Jawa dan luar Jawa, serta terbatasnya fasilitas ventilator dan ICU.
 
Ketidaksiapan fasilitas pelayanan kesehatan dan laborotorium untuk tes Covid-19
 
Pada awal wabah ini, Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) pun sangsi (ragu) akan kemampuan laboratorium yang dimiliki Indonesia, disaat negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan Thailand sudah melaporkan kasus pertama mereka pada bulan Januari dan Februari. Namun WHO diyakinkan oleh Pemerintah Indonesia, Indonesia siap menghadapai Pandemi Covid-19.
 
Pada Januari dan Februari 2020, Indonesia diprediksi sudah harus melaporkan kasus Covid-19, namun kemampuan laboratorium dan reagen untuk mendeteksi Covid-19 masih sangat terbatas. 
 
Indonesia sudah punya pengalaman untuk mendeteksi virus Mers, SARS (virus dari keluarga coronavirus), namun spesifik Covid-19 masih dimonopoli oleh laboratorium litbangkes Kemenkes untuk seluruh Provinsi di Indonesia. Sehingga pada awal pandemi, butuh 10-14 hari untuk tahu seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak. 
 
Sedihnya, pekerja medis menjadi sangat rentan tertular karena merawat pasien dengan cara yang tak sesuai protokol kesehatan dengan kepastian hasil tes pasien yang sangat lambat.
 
“Di Indonesia yang punya alat itu cukup banyak, bukan hanya laboratorium penelitian di perguruan tinggi tapi juga di lab swasta. Namun, alat tersebut tidak digunakan rutin untuk memeriksa virus corona. Hanya saja, saat ini yang bisa memeriksa dan memastikan soal virus corona adalah dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (litbangkes) Kementerian Kesehatan” (Kepala Lembaga Biologi Molekul Eijckman Amin Subandrio; dikutip dari Kontan, Februari 2020).
 
Adanya ketimpangan akses tes Covid-19 dan jumlah nakes di provinsi Jawa dan luar Jawa
 
Para ahli secara luas sepakat, ada kebutuhan untuk lebih banyak tes COVID-19 serta data yang dapat diandalkan, sehingga gambaran pandemi yang lebih akurat dapat dilihat. 
 
Dr John MacArthur, Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Pusat di Thailand menerangkan di Indonesia, dengan layanan tes Covid-19 yang terbatas, angka kematian mungkin terlihat tinggi, karena penyebutnya, jumlah angka kesakitan terkait Covid-19 masih sedikit. Namun kami berpendapat bahwa, kasus kematian Covid-19 bisa jadi lebih tinggi, jika diadakan screening Covid-19 masif, sehingga kita mendapatkan jumlah angka kematian dan kesakitan, termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG) dan kasus probable yang akurat. 
 
Ditemukan adanya ketimpangan yang jelas antara tes COVID-19 di Jawa dan Luar Jawa. Saat ini, Pemerintah seperti lebih mengutamakan adanya tes yang lebih banyak di Pulau jawa. Hal tersebut terjadi dikarenakan sulitnya akses laboratorium dan hal lainnya. 
 
Hingga bulan September 2020, DKI Jakarta menjadi provinsi yang paling banyak melakukan testing, yakni sudah mencapai 324.000 orang. Di Jawa Timur mencapai 184.000 orang dan di Jawa Tengah mencapai 162.000 orang. Sedangkan di Provinsi lain (termasuk SUMSEL) masih dibawah 100.000 orang.
 
Selain itu, ketimpangan persebaran tenaga medis antara provinsi Jawa dan Luar Jawa menjadi salah satu faktor penyebab lainnya. Oleh sebab itu di beberapa daerah terlihat banyaknya pihak rumah sakit yang membuka lowongan tenaga kerja kesehatan.
 
Diperparah pula dengan semakin banyak pasien yang perlu ditangani sehingga berdampak pada banyaknya tenaga medis yang kelelahan.
 
Terbatasnya fasilitas ventilator dan ICU
 
Meskipun saat ini telah banyak rumah sakit yang ditunjuk sebagai RS Rujukan bagi pasien COVID-19 namun diantaranya ada yang belum memenuhi persyaratan. Salah satunya ialah minimnya persediaan ventilator untuk penanganan COVID-19.
 
Dilansir dari website databoks, ketersediaan ventilator di Indonesia per Maret 2020 sebanyak 8,4 ribu unit dan belum tersebar secara merata di berbagai provinsi Indonesia. 
 
Faktor Komunitas
 
Baru-baru ini terdapat sebuah penelitian yang membuktikan bahwa percaya pada hoax terkait COVID-19 menyebabkan lebih banyak kematian dan hal itu terjadi di Indonesia. Dikutip dari CNN, peneliti menulis bahwa akibat kesalahan informasi atau hoax yang telah menyebar di kalangan masyarakat didapat data ada sekitar 800 orang meninggal. 
 
Sedangkan 5.876 telah dirawat di rumah sakit dengan 60orang telah mengalami kebutaan total akibat meminum metanol sebagai obat yang mereka percayai untuk terhindar dan sembuh dari COVID-19.
 
Adanya hoax, stigma ataupun stereotipe negatif dari masyarakat terhadap penderita COVID-19 maupuntenaga medis menjadi faktor penyebab tingginya angka kematian akibat COVID-19. Stigma ini timbul dapat disebabkan adanya pemberitaan media terkait informasi yang utuh soal penularan virus namun tidak sampai ke masyarakat.
 
Banyak masyarakat yang langsung menghakimi tenaga kesehatan dan pasien COVID-19 serta keluarganya karena takut tertular. Stigma tersebut akhirnya dapat mendorong seseorang untuk menyembunyikan penyakit agar terhindar dari diskriminasi. Akibatnya banyak mereka yang terinfeksi COVID-19 terlambat mendatangi rumah sakit dan kondisi merekatelah menunjukkan gejala berat dan darurat. 
 
Faktor Ketidakpastian Kebijakan Layanan Publik: PSBB ke New Normal ke Adaptasi Baru ke Mini Lock Down
 
Selama masa pandemi covid-19, sudah ada beberapa kebijakan yang telah diambil oleh Pemerintah Indonesia. Pada awal munculnya pandemi COVID-19, Pemerintah melakukan kebijakan PSBB dimana semua masyarakat tidak diperbolehkan untuk berkumpul dan keluar rumah. 
 
Namun lama kelamaan, masyarakat mulai jenuh dengan keadaan yang tidak pasti serta masyarakat dengan ekonomi rendah pun memutuskan untuk kembali bekerja agar mendapatkan uang untuk kehidupan sehari-hari.
 
Pemerintah pada akhirnya memutuskan untuk mengganti kebijakan yang sebelumnya diterapkan menjadi kebijakan baru yang disebut new normal. Kebijakan new normal baru saja diterapkan oleh pemerintah selama beberapa bulan namun pemerintah kembali mengganti kebijakan tersebut menjadi adaptasi baru. 
 
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa alas an pergantian istilah menjadi adaptasi baru karena penggunaan istilah new normal dianggap membingungkan masyarakat. Istilah new normal justru diartikan masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa tanpa memperhatikan protokol kesehatan. 
Pada akhir bulan September 2020, Presiden Jokowi kembali mengusulkan istilah baru yaitu Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) atau mini lockdown. 
 
Kebijakan yang sering berganti justru semakin membingungkan masyarakat. Kebijakan yang terjadi selalu menunjukkan respons yang lambat dan transparansi data juga belum jelas, tidak efektif dan membingungkan. Dalam inovasi kebijakan terkaitpenanganan Covid-19 ditanah air, pemerintah masih kurang dalam menyebarluaskan kebijakan yang ada guna menekan penyebaran Covid-19.
 
Apa yang harus dilakukan? 

Adanya peningkatan kasus kematian akibat COVID-19 di Indonesia setiap harinya menunjukkan bahwa penyakit menular satu ini tidak boleh disepelekan.
 
Maka dari itu diperlukan berbagai penanganan aplikatif dan terintegrasi untuk menekan angka kematian sekaligus mencegah adanya peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia. Adapun saran dari kami ialah:
 
Melakukan kampanye digital dengan memberdayakan mahasiswa universitas dengan memperhatikan kondisi disaat kepercayaan masyarakat terhadap Covid-19 sudah mulai memudar
 
Membuat program pelatihan medis dasar bersertifikasi untuk mahasiswa kesehatan di Indonesia sebagai bentuk antisipasi dan persiapan apabila kekurangan tenaga medis saat terjadi bencana non-alam di kemudian hari
 
Menyediakan fasilitas kesehatan keliling yang bertujuan untuk melakukan sensus sekaligus memantau pasien dengan komorbid
 
Mempersiapkan puskesmas sebagai tombak utama dalam pertolongan pertama pada pasien dengan Covid-19 dengan gejala ringan
 
Mengajak Mahasiswa Kesehatan Masyarakat untuk melakukan challenge pencegahan COVID-19, dengan memilih hashtag dan menerapkannya selama 23 hari. Challenge berupa foto atau video yang diupload bahwa mereka melakukan hal tersebut
 
Membuat kebijakan publik berdasarkan penelitian dan pembelajaran dari negara-negara tetangga sudah melewati gelombang pertama pandemi.
 
Pada dasarnya untuk menekan peningkatan kasus kematian akibat COVID-19 yang terjadi di Indonesia merupakan tanggungjawab seluruh masyarakat Indonesia. Diperlukan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah agar penanganan yang disarankan maupunkebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah berhasil menurunkan angka kasus dan kematian akibat COVID-19. 
 
Komunikasi yang efektif dan tegas serta adanya transparansi informasi dari pemerintah menjadi salah satu hal penting agar masyarakat percaya pada pemerintah sekaligus terbentuk kesadaran diri yang tinggi untuk mematuhi berbagai kebijakan yang ada.
 
ALIA FAIRUS; MELIA HANDRIANA; RAHMI SAVITRI; NURMALIA ERMI; NAJMAH.

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA.
 
Email: alianafairus27@gmail.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

8 comments

  1. Gambar Gravatar Biru berkata:

    Sangat informatif

  2. Gambar Gravatar marlina berkata:

    terima kasih infonya!

  3. Gambar Gravatar ale berkata:

    terimakasih infornya!!

  4. Gambar Gravatar Gibtiah berkata:

    Bagus, informatif dan inspiratif

  5. Gambar Gravatar Friend berkata:

    Sangat inspiratif, terimakasih untuk beritany

  6. Gambar Gravatar Unknown berkata:

    Indonesia bisa jadi keren gini skrng udah peringkat satu ae

  7. Gambar Gravatar zahra berkata:

    bagus,dan inspiratip

  8. Gambar Gravatar nezla berkata:

    Sangat aktual dan informatif, kerenn