oleh

MENILIK KESEHATAN MENTAL TENAGA KESEHATAN DAN MASYARAKAT SAAT PANDEMI COVID-19

-Opini, dibaca 2109 x

“Gangguan mental bukanlah sesuatu yang memalukan, namun stigma dan bias mempermalukan kita semua.” Kutipan tersebut dilontarkan oleh Bill Clinton yang merupakan mantan Presiden Amerika Serikat. Sesuai dengan kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan mental masih dikatakan minim. 

Sebagian besar daerah di Indonesia mempercayai penyebab gangguan mental adalah kerasukan roh jahat, seorang pendosa, atau orang yang melakukan perbuatan amoral dan kurang iman. Sehingga alih-alih melakukan penanganan medis, mereka justru mengunjungi dukun/ahli spiritual lain atau bahkan melakukan metode pasung dan dikurung dalam suatu ruangan.
 
Sumber: https://id.pinterest.com/pin

Dengan keadaan yang memprihatinkan ini tentu saja berdampak terhadap kesehatan mental semua orang yang berkaitan dengan masa pandemi COVID-19 sekarang. Semua orang baik masyarakat maupun tenaga kesehatan tentu saja merasakan beberapa gangguan terhadap kesehatan mentalnya disebabkan oleh kebijakan-kebijakan yang telah diatur pemerintah guna menekan angka penyebaran kasus COVID-19. 
 
Irisan faktor yang mempengaruhi kesehatan mental masyarakat dan tenaga kesehatan di masa pandemi COVID-19
 
Berikut ini adalah irisan-irisan dan faktor yang bisa mempengaruhi kesehatan mental masyarakat dan tenaga kesehatan di masa pandemi COVID-19
 
 
Faktor Individu
 
Kesehatan mental sangat berpengaruh pada faktor individu, menurut Ilpaj dan Irwanti (2020) besarnya jumlah orang sakit dan orang meninggal dunia berdampak besar pula terhadap kesehatan mental secara kolektif. 
 
Holly Daniels, selaku direktur pelaksana urusan klinis untuk California Association of Marriage and Family Therapists, yang dikutip dari thejakartapost.com mengatakan bahwa adanya anjuran pemerintah untuk #DirumahAja pun untuk sebagian orang terdapat anggapan bahwa rumah bukanlah tempat yang aman. 
 
Hal ini karena bagi sebagian orang yang sendirian dan terisolasi dapat menyebabkan seseorang  berada di situasi tidak aman. Serta adanya social distancing menimbulkan jarak secara emosional antara keluarga, teman, sahabat, atau umat di tempat ibadah yang dapat saling memberi dukungan.
 
Lebih lanjut lagi dengan terjadinya rasa kesepian dan terisolasi akan  meningkatnya tingkat bunuh diri. Sedangkan dampak kesehatan mental bagi masyarakat, menurut IASC (2020) takut jatuh sakit dan meninggal, tidak mau datang ke fasilitas layanan kesehatan karena takut tertular saat dirawat, serta merasa tidak berdaya, bosan, kesepian dan depresi selagi diisolasi.
 
Disisi lain bagi tenaga kesehatan, faktor individu kesehatan mental seorang tenaga kesehatan juga sangat berpengaruh di masa pandemi seperti ini. 
 
Menurut penelitian yang dilakukan Susanto (2020) adanya gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, stres, post-traumatic stress disorder (PTSD), insomnia, somatisasi, gejala obsesif-kompulsif, efikasi diri, sensitivitas interpersonal, photic anxiety dan lekas marah disebabkan karena kurang dukungan sosial, kurang informasi tentang COVID-19, pelatihan penggunaan dan kurangnya alat pelindung diri (APD), langkah mengendalikan infeksi, bekerja di ruang isolasi, khawatir akan terinfeksi dan menularkan ke keluarga, perasaan frustasi ketidakpuasan pada pekerjaan, perasaan kesepian terisolasi, kontak langsung dengan pasien positif COVID-19, dan peningkatan rasio kerja. Menurut (IASC, 2020) masyarakat dan tenaga kesehatan sebenarnya sama-sama takut mengalami wabah sebelumnya.
 
Faktor Interpersonal

Beberapa hal yang dapat dilihat dari faktor interpersonal pada masyarakat yaitu dengan adanya prinsip social distancing menimbulkan jarak secara emosional antara keluarga, teman, sahabat, atau umat di tempat ibadah yang dapat saling memberi dukungan (Ilpaj dan Nurwati, 2020). 
 
Selain itu, menurut IASC (2020) pada “Catatan tentang Aspek Kesehatan Jiwa dan Psikososial Wabah COVID-19 Versi 1.0” menjelaskan bahwa masyarakat merasa takut terpisah dari orang-orang yang terkasih dan pengasuhnya karena adanya aturan karantina. Beberapa masyarakat juga menolak untuk mengurusi anak kecil yang sendirian atau terpisah, penyandang disabilitas atau orang berusia lanjut karena takut infeksi, karena orang tuanya atau pengasuhnya dikarantina.
 
Menurut Susanto (2020) tenaga kesehatan memiliki rasa kelemahan ketahanan dan kurangnya dukungan sosial pada staf baru menyebabkan kelainan psikologis yang lebih besar. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kinerja tenaga kesehatan yang sedang bertugas di pelayanan kesehatan. 
 
Adanya perasaan tidak berdaya untuk melindungi orang- orang terkasih dan takut kehilangan orang-orang terkasih karena virus yang menyebar dapat dirasakan oleh setiap masyarakat maupun tenaga kesehatan, hal ini berkaitan dengan penjabaran dari respons kesehatan jiwa dan psikososial untuk COVID-19 (IASC, 2020).
 
Faktor Pelayanan Kesehatan 
 
Dalam pelayanan kesehatan, masyarakat banyak tidak mau datang ke fasilitas kesehatan karena takut tertular COVID-19. Hal ini sesuai dengan penelitian (IASC, 2020) respons kesehatan jiwa dan psikososial untuk COVID-19 di dalam wabah apapun wajar jika orang merasa tertekan dan khawatir. Respons umumnya dari orang-orang yang terdampak (baik secara langsung atau tidak) yaitu salah satunya ialah tidak ingin datang ke fasilitas layanan kesehatan karena takut tertular saat dirawat.
 
Disisi lain kurangnya fasilitas dan kebutuhan yang tersedia di rumah sakit menjadi salah satu faktor dari sisi pelayanan kesehatan. Pada artikel Khumaini, Ali. (2020) jumlah tempat tidur rumah sakit perawatan intensif yang rendah di pelayanan kesehatan, telah membatasi kemampuan untuk memberikan perawatan yang memadai bagi individu dengan COVID-19. 
 
Hal ini juga menjadi perhatian presiden Jokowi sehingga memerintahkan agar jajarannya untuk memastikan ketersediaan tempat tidur dan ICU di rumah sakit rujukan untuk pasien dengan gejala berat (Irham, 2020). 
 
Masyarakat dan petugas pelayanan kesehatan pada umumnya memiliki rasa takut dan cemas karena dampak yang akan ditimbulkan apabila tertular COVID-19. Petugas dan masyarakat takut jatuh sakit dan meninggal jika mendatangi pelayanan kesehatan secara terus-menerus (IASC, 2020).
 
Faktor Ekonomi

Beberapa hal yang berkaitan dengan faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap masyarakat yaitu terjadinya pengurangan jam kerja, kehilangan pendapatan karena di PHK atau sampai terjadi kehilangan lapangan kerja bagi pekerja non formal. 
 
Faktor ekonomi bagi tenaga kesehatan yaitu beberapa tenaga medis terlambat mendapatkan gaji lembur atau bahkan dokter praktek yang kehilangan pekerjaan mereka secara sementara. Faktor ini sangat berkaitan pada kesehatan mental tiap tenaga kerja karena dengan adanya kendala ekonomi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka. 
 
Menurut menurut IASC (2020) pada “Catatan tentang Aspek Kesehatan Jiwa dan Psikososial Wabah COVID-19 Versi 1.0” hal yang dapat dirasakan bagi masyarakat maupun tenaga medis terhadap kendala perekonomian mereka yaitu adanya rasa takut kehilangan mata pencaharian, tidak dapat bekerja selama isolasi, dan dikeluarkan dari pekerjaan.
 
Faktor Budaya
 
Pada saat ini banyak sekali berita tentang masyarakat yang menolak jenazah pasien COVID-19. Seperti berita yang dilansir oleh Tim PRMN (2020) mengenai Kasus Penolakan Jenazah PDP COVID-19 di Kalimantan Tengah, menjelaskan bahwa alasan masyarakat menolak menerima jenazah adalah karena takut akan adanya penularan virus penyakit melalui jenazah yang dibawa oleh petugas kesehatan. 
 
Dengan kasus tersebut, pihak petugas telah memberikan upaya mediasi dengan warga setempat agar bisa menerima kondisi yang sedang dialami bahwa hal ini sudah ditangani sesuai prosedur. 
Bagi tenaga kesehatan suatu pendapat dan dukungan dari masyarakat tentang tenaga kesehatan yang rentan tertular dan menularkan menjadi salah satu faktor penyebab stres tenaga kesehatan.
 
Hal ini sejalan dengan IASC (2020) bahwa tenaga kesehatan garis depan (termasuk perawat, dokter pengemudi ambulans, petugas identifikasi kasus, dan lainnya) faktor penyebab stres tambahan selama wabah COVID-19 bisa jadi lebih berat karena stigmatisasi terhadap orang yang menangani pasien COVID-19 dan jenazahnya. Kemudian semakin sulit mendapatkan dukungan sosial karena jadwal kerja yang padat dan adanya stigma masyarakat terhadap petugas garis depan. 
 
Faktor lain stress pada tenaga kesehatan ini adalah kurang mampunya kesempatan dan tenaga untuk perawatan dasar pada diri sendiri, selanjutnya yaitu rasa takut dari petugas kesehatan akan menularkan penyakit ke teman dan keluarga karena pekerjaanya.
 
Faktor yang berat dan selalu menjadi pikiran masyarakat dan tenaga kesehatan adalah adanya rasa takut diasingkan masyarakat karena dikaitkan dengan penyakitnya, dan takutnya ada rasa rasisme kepada masyarakat atau petugas kesehatan yang berasal dari daerah yang dianggap terdampak COVID-19. 
 
Pada artikel IASC (2020) respons umum dari orang-orang yang terdampak (baik secara langsung atau tidak langsung salah satunya ialah takut diasingkan masyarakat/dikarantina karena dikait-kaitkan dengan penyakit (seperti rasisme terhadap orang yang berasal dari, atau dianggap berasal dari, tempat-tempat terdampak).
 
Solusi 
 
Terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa cemas akibat COVID-19 ini diantaranya melakukan kegiatan positif dirumah yang menggunakan aktivitas fisik, mengkonsumsi makanan bergizi, membangun hubungan yang baik dengan keluarga dan teman, dan melakukan meditasi untuk mengendalikan kecemasan. Jangan terlalu paranoid dalam memandang situasi seperti sekarang ini. 
 
Misalnya dengan menyeleksi pemberitaan mengenai COVID-19 ini. Dalam situasi ini, kita tetap perlu update mengenai kondisi terkini, namun dengan informasi yang telah dipilah terlebih dahulu. Ambil informasi dari sumber yang terpercaya, jangan gampang percaya berita-berita korona begitu saja. 
 
Berdamai dengan keadaan untuk tetap menjaga kesehatan mental. Masyarakat harus memandang positif terhadap kebijakan yang keluarkan pemerintah terkait membatasi interaksi atau aktivitas sosial. 
 
Masyarakat juga perlu mempelajari bagaimana konsep kebijakan New Normal yang benar, agar angka terkonfirmasi COVID-19 tidak menanjak lagi. Agar terlindung dari penyakit COVID-19 ini patuhilah anjuran dari pemerintah, lakukan solusi diatas untuk mengurangi kecemasan, serta tidak lupa untuk hidup bersih, dan selalu berdoa.
 
CITRA AFNY SUCIRAHAYU; DIAN PALUPI; NAMIRAH ADELLIANI; PRASTYKHA TRI WAHYUNI; NURMALIA ERMI; NAJMAH
 
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT 
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
 
Contact Person : citraafny123@gmail.com
Sertifikat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments