oleh

Mengungkap Penyebab Stigma Negatif Saat Pandemi Covid-19

-Opini, dibaca 2840 x

Saat ini Indonesia menjadi salah satu dari 216 negara yang harus berjuang melawan penyebaran virus corona. Dilansir dari website resmi covid.go.id tercatat sudah ada 349.000 kasus orang yang terkonfirmasi positif Covid-19, 274.000 orang dinyatakan sembuh, dan 12.268 orang dinyatakan meninggal akibat Covid-19 (update terakhir pada 15 Oktober 2020). 

Ditengah pandemi Covid-19, berkembang pula suatu fenomena sosial yang dapat  memperparah situasi yaitu stigma negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang dengan status suspek, kontak erat, dan status terkonfirmasi. Mereka diberikan label, didiskriminasi, diperlakukan berbeda, dan mengalami pelecehan karena terasosiasi dengan virus Corona.
 
Masih banyak yang belum diketahui tentang Covid-19, karena merupakan suatu penyakit baru. Karena itu manusia cenderung takut pada sesuatu yang belum diketahui dan lebih mudah menghubungkan rasa takut pada “kelompok yang berbeda”.
 
Sumber gambar: artikel asumsi.co

Inilah yang menyebabkan munculnya stigma sosial dan diskriminasi terhadap etnis tertentu dan juga orang yang dianggap mempunyai hubungan dengan virus ini.
 
Perasaan bingung, cemas, dan takut yang kita rasakan memang tidak dapat dihindari tapi bukan berarti kita boleh berprasangka buruk pada penderita, perawat, keluarga, ataupun mereka yang tidak sakit tapi memiliki gejala yang mirip dengan Covid-19. Jika terus terpelihara di masyarakat, stigma sosial dapat membuat orang-orang menyembunyikan sakitnya supaya tidak didiskriminasi, mencegah mereka mencari bantuan kesehatan dengan segera, dan membuat mereka tidak menjalankan perilaku hidup yang sehat.
 
Stigma Saat Pandemi Covid-19 
 
Stigma merupakan bentuk penyimpangan penilaian suatu kelompok masyarakat terhadap individu yang salah dalam interaksi sosial. Terdapat perubahan istilah bagi penyebutan ODP (Orang dalam pemantauan) menjadi kontak erat, PDP (Pasien dalam pengawasan) menjadi kasus suspek dan OTG (orang tanpa gejala) menjadi kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik) hal ini sesuai dengan pedoman baru yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 yang merupakan perubahan kelima. 
 
Stigma negatif diberikan kepada orang dengan kasus suspek, kasus konfirmasi, dan kontak erat memberi dampak yang cukup besar bagi kesehatan mental seperti tekanan dari dalam diri yang menimbulkan depresi dan stress, hingga menyebabkan turunnya imunitas yang akan memperburuk keadaan pasien.
 
Stigma negatif yang terus berkembang bagi sebagian masyarakat dengan pendidikan rendah dan belum memperoleh banyak informasi mengenai Covid-19 sehingga dengan mudah menyebarkan stigma-stigma negatif.
 
Saat ini stigma hadir dalam bentuk pemberian label, pemisahan, penghilangan status dan diskriminasi terhadap orang-orang yang terhubung dengan Covid-19. Dalam kasus Covid-19, ada peningkatan jumlah laporan stigmatisasi public terhadap orang-orang dari daerah zona berbahaya Covid-19.
 
Sumber: https://sulsel.idntimes.com/news/indonesia
 
Salah satu terjadi di Sulawesi Selatan, mantan pasien yang telah sembuh dari Covid-19 mengaku mendapat pengalaman buruk akibat stigma negatif yang ia dan keluarganya terima akibat positif Covid-19. Dikutip dari berita IDN TIMES SULSEL senin (18/5).
 
“Saya dengan ibu di sana (RS Aloei Saboe) kita tidak merasakan ketakutan seperti bayangan kebanyakan orang.
Cuma yang bikin takut pasien itu selepas mereka sembuh, sanksi sosial ini sebenarnya yang paling berat," curhat Rifaldi kepada IDN Times saat dikunjungi di kediamannya. 
 
Rifaldi mengaku terbebani dengan perlakuan sebagian orang di sekitar tempat tinggalnya. Apalagi, ada anggapan yang beredar bahwa pasien sembuh masih membawa sisa-sisa virus corona yang dapat menyakiti orang lain.  Padahal sesuai dengan hasil PCR atau swab yang nyata, setelah dua kali pemeriksaan negatif, maka dipastikan sudah tidak ada lagi virus corona dalam tubuh. Tetapi orang beranggapan masih ada virus corona di dalam tubuh mereka.
 
Irisan faktor yang mempengaruhi stigma negatif saat pandemi Covid-19
 
Berikut adalah irisan-irisan faktor yang dapat mempengaruhi stigma negatif di masyarakat saat pandemi Covid-19
 
 
Faktor Individu

Masyarakat Indonesia sering mendapat berita-berita hoax yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Banyak masyarakat dengan status suspek dan status probable, yang harus melakukan isolasi diri dirumah membuat lingkungan tempat tinggal menjadi resah. Apalagi ketika di awal kasus Covid-19 semua orang takut untuk tertular penyakit ini.
 
Masyarakat dan pasien kurang informasi tentang Covid-19 sehingga belum memahami bagaimana penularan dan proses penyembuhan dari Covid-19 sehinga mudah untuk menyerap informasi yang tidak diketahui benar atau salahnya hal ini memicu timbulnya stigma maupun diskriminasi. Hal ini mempengaruhi kurangnya kesadaran dari setiap orang untuk melakukan kegiatan positif seperti memberi dukungan atau semangat kepada orang dengan status suspek, probable, dan  status terkonfirmasi. 
 
Faktor Interpersonal/Keluarga dan Komunitas

Penyebab stigma negatif dengan status suspek, probable, dan  status terkonfirmasi Covid-19 hingga tenaga kesehatan pun mendapatkan stigma, yaitu dari keluarganya sendiri yang memang sengaja mengucilkan mereka. Mereka menganggap bahwa yang terkena Covid-19 dapat menularkan dan apabila terkena virus Covid-19 tidak akan sembuh sepenuhnya hal itu karena informasi yang didapatkan masyarakat tidak sepenuhnya benar. 
 
Pengucilan bagi mereka dengan status suspek, probable, dan  status terkonfirmasi Covid-19 oleh tetangga sekitar tempat tinggal yang sangat meresahkan, membuat tidak nyaman dan menimbulkan perasaan tidak percaya diri meskipun telah dinyatakan sembuh dari Covid-19. Mereka dicap sebagai pembawa virus yang dapat menularkan pada orang lain. 
 
Faktor Pelayanan kesehatan
 
Tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan pasien membuat warga yang tinggal di sekitar mereka menjadi takut. Perasaan takut kembali mempengaruhi diskriminasi terhadap orang yang melakukan kontak dengan pasien Covid-19. Selain itu, faktor lainnya adalah ketakutan dari tenaga kesehatan akibat banyak dokter, perawat dan tenaga medis lainnya yang meninggal. 
 
Pada bulan September kemarin Indonesia memperingati peristiwa 100 dokter yang meninggal akibat Covid-19. Kehilangan teman sejawat memang menyedihkan, terlebih lagi mereka meninggal disaat berjuang untuk menangani pasien Covid-19. Para tenaga kesehatan tentu sangat menanti terjadinya penurunan jumlah kasus baru.
 
Tak jarang para tenaga kesehatan memposting kegiatan mereka pada akun sosial media di sela kesibukan dengan alat pelindung yang berlapis-lapis. Masyarakat yang menyaksikan dapat memberikan bermacam-macam pendapat. Ada yang kagum dengan perjuangan tenaga kesehatan dan ada yang sedih melihat mereka letih bekerja namun angka kasus baru tetap bertambah.
 
Faktor Sosial-Ekonomi

Perekonomian yang semakin menurun akibat pandemi ini mengakibatkan masyarakat keluar rumah untuk mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi kebanyakan dari masyarakat bekerja di sektor informal. Kemudian Kurangnya rasa simpati, kesatuan dan gotong royong masyarakat untuk bersama menghentikan rantai penularan virus corona. Fenomena stigmatisasi akan terus bertambah seiring angka kejadian kasus baru masih belum teratasi. 
 
Faktor Budaya dan Lingkungan

Budaya buruk masyarakat yang tinggal di desa sering berkumpul untuk bergosip masih berkembang di kalangan masyarakat, terutama kalangan Ibu rumah tangga.  Kemudian kurangnya sosialisasi di lingkungan tempat tinggal mengenai penyebaran Covid-19 sehingga tidak diterimanya orang dengan kasus suspek, kasus probable dan kasus konfirmasi positif untuk melakukan isolasi mandiri di lingkungan tempat tinggal.
 
Upaya yang dapat dilakukan 
 
Penyampaian komunikasi dengan tepat adalah hal yang penting, media berperan penting dalam memberikan informasi dan tidak hanya fokus pada pertumbuhan kasus dan kurangnya keterbukaan informasi perihal penanganan COVID-19. Stigma di masyarakat dapat  ditekan dengan dengan cara menyampaikan komunikasi risiko dengan tepat.
 
Informasi tersebut dapat disampaikan melalui media website, iklan dan social dengan bekerja sama dengan Kominfo dibuat dengan semenarik mungkin sehingga masyarakat dengan mudah memahami. 
 
Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat untuk memberikan apresiasi pada tenaga kesehatan atau pada orang-orang yang turut memberikan dukungan dalam penanganan COVID-19. Mengajak masyarakat untuk  memahami setiap informasi yang diterima sehingga disaat pandemi seperti ini kita dapat terus hidup rukun disekitar lingkungan. 
 
Tokoh agama dan masyarakat memegang peran penting membantu masyarakat menghadapi pandemi Covid-19. Tokoh agama dan masyarakat dapat membantu dengan memastikan semua orang mendapat informasi yang benar dan tidak menyebar hoax atau informasi yang salah. Mereka juga dapat membuat WA Group bagi lingkungan setempat agar warga selalu menerima informasi terkini.
 
FARIDA NUR AZIZA; AURA ANISSA DEKAFANI; NANDA RIZKA SAPUTRI; NURMALIA ERMI; NAJMAH.

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA
 
Email: faridanuraziza91@gmail.com
Sertifikat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

3 comments

  1. Gambar Gravatar idris nawawi berkata:

    Bagus, Tingkatkan dalam menulis Tinggalkan amal jariyyah yang baikMuda bermanfaat ✊

  2. Gambar Gravatar Denta saputra berkata:

    Bagus beritanya menarik dan edukatif, terus semangat ya kk 👍

  3. Gambar Gravatar Rahmi berkata:

    Topik yang menarik di tengah kondisi pandemi seperti ini. Semoga dengan adanya artikel seperti ini, dapat mengurangi stigma negatif yang terjadi di masyarakat terkait kondisi pandemi covid