oleh

Refleksi Tiga Tahun Askolani-Slamet Pimpin Banyuasin, Fokus Bangun Pertanian Lampaui Kabupaten Lain

-Daerah, dibaca 114 x

LAJU SUMSEL, BANYUASIN -- Hari ini, genap tiga tahun Askolani Jasi memimpin Kabupaten Banyuasin, bersama Wakil Bupati Slamet Soemosentono. Selama 3 tahun memimpin  Banyuasin, banyak keberhasilan  dan prestasi yang ditorehkan.  Bahkan banyak kalangan menilai saat ini Kabupaten Banyuasin lebih maju melampaui Kabupaten Muba yang merupakan kabupaten induk. 

Pengamat kebijakan publik Sumsel , Arief Dalhar mengatakan, salah satu penyebab keberhasilan Banyuasin adalah lantaran Askolani sangat fokus membangun dan mengembangkan potensi kabupaten Banyuasin, yaitu bidang pertanian dan perkebunan.
 
“3 Tahun memimpin Banyuasin, Pak Askolani sangat fokus membangun bidang pertanian, mulai dari hulu sampai hilirnya. Ini yang membuat Banyuasin cepat sekali maju dan berkembang,’’ jelas Arief Dalhar dalam Diskusi Online membedah 3 Tahun Kepemimpinan Bupati Banyuasin Askolani Jasi yang digelar Forum Pembangunan Banyuasin, di Palembang, Minggu (19/9).  
 
Menurut Arief, seorang kepala daerah memang harus memahami potensi utama sebuah daerah yang dipimpinya. Sehingga kebijakan atau program-program pembangunan yang dilaksanakan dapat fokus dan totalitas.
 
“Kami melihat selama 3 tahun ini, Pak Askolani sangat totalitas membangun bidang pertanian. Infrastuktur pertanian seperti jalan dan irigasi dibangun secara masiv, demikian juga soal bibit, pupuk sampai terjun langsung memberikan semangat dan motivasi kepada para petani,’’ jelasnya.
 
Dia mengatakan, salah satu kunci keberhasilan Askolani memimpin Banyuasin adalah lebih banyak langsung turun ke lapangan ketimbang berada di kantor dan hanya mendengarkan laporan para stafnya.
 
Askolani lebih memilihnbertemu langsung dengan masyarakat, terutama kalangan petani. Sehingga dia bisa mendegarkan langsung aspirasi, harapan dan keluhan masyarakat.
 
“Gaya Askolani ini mirip dengan gaya kepimpinan Herman Deru memimpin OKU Timur dan saat ini menjadi gubernur,’’ ujar Arief. 
 
Peserta diskusi lainnya, Diaz Juniansyah menyebutkan, sejumlah indikator makro menunjukkan bahwa saat ini Kabupaten Banyuasin sudah bisa diktakan lebih maju meninggalkan kabupaten induknya, yaitu Kabupaten Muba.
 
Indikator itu antara lain tingkat pertumbuhan ekonomi Banyuasin lebih tinggi dari Muba. Tingkat kemiskinan Banyuasin sebesar 11,2 persen jauh lebih rendah dari tingkat kemiskinan Muba yang mencapai 15,6 %. Padahal APBD Banyuasin lebih kecil yaitu hanya Rp 2,1 T dibanding Muba yang APBD nya mencapai Rp 4 T.
 
Selain itu, rasio kelistrikan Banyuasin jauh lebih baik dari Muba. Dimana persoalan layanan listrik di Banyuasin sudah tidak ada permasalahan lagi, sementara di Muba setidaknya masih ada 4 kecamatan yang mengalami krisis layanan listrik ke rumah rumah warga.
 
“Ini artinya Banyuasin lebih baik dari Muba dalam pengelolaan potensi daerah dan program kesejahteraan masyarakat” beber Diaz yang mewakili Ikatan Pemuda dan Mahasiswa Banyuasin ini.
 
Diskusi online yang diikuti ratusan peserta tersebut menyoroti kemajuan pembangunan Banyuasin di bidang pertanian. Dimana Banyuasin sudah sangat maju dan telah menempatkan Kabupaten berjuluk Sedulang Setudung ini sebagai 5 daerah produsen terbesar secara nasional. 
 
“Ini dicapai karena bupati dan jajarannya sangat fokus membangun pertanian yang merupakan potensi besar Banyuasin. Infrastruktur pertanian terus dibangun,” ujar Dede Suryadarma, pengurus KTNA Sumsel yang ikut dalam diskusi itu.
 
Peserta lainya, Pandu Wiguna menegaskan bahwa kemajuan suatu daerah tidak ditentukan oleh besarnya Sumber Daya Alam (SDA)nya, namun sangat ditentukan oleh gaya kepemimpinan kepala daerahnya. Apalagi di era otonomi daerah saat ini di mana peran bupati dan wali kota sangatlah dominan. 
 
“Jika salah kelola maka banyaknya SDA tidak bermanfaat banyak bagi masyarakat. Contohnya  di Lahat dan Muba, dua kabupaten ini kaya SDA, tetapi jumlah masyarakat miskinnya tertinggi di Sumsel,” jelasnya.
 
Tokoh masyarakat Banyuasin, Ahmad Taher mengapresiasi keberhasilan Askolani memimpin Banyuasin. Bahkan Herman Ong memprediksi  Banyuasin akan mengalami lompatan kemajuan yang luar biasa jika Pelabuhan Tanjung Carat dapat segera direalisasikan pembangunannya mulai akhir tahun 2021 ini.
 
"Jika Pelabuhan Tanjung Carat segera dibangun, maka yang paling cepat terkena dampak adalah Kabupaten Banyuasin. Ekonomi Banyuasin akan mengalami lompatan yang luar biasa,’’ ujarnya.
 
(ril)
 
Sertifikat
HKN
STIa
SKM Unsri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

0 comments